Wednesday, 29 July 2009

Istana Tampak Siring




Istana Tampak Siring adalah istana kepresidenan yang terletak di Kabupaten Gianyar, Bali . Istana Tampak Siring biasanya digunakan presiden untuk beristirahat, rapat kerja, ataupun melakukan perundingan luar negeri. Istana Tampak Siring dibangun oleh seorang arsitek bernama R.M. Soedarsono atas prakarsa Presiden Soekarno. Pembangunanya dibagi menjadi dua masa yaitu pada tahun 1957 dan 1963. Pada tahun 1957 di kompleks ini dibangun Wisma Merdeka dan Yudhistira. Sedangkan tahun 1963, pembangunan tahap kedua merampungkan gedung Wisma Negara, Wisma Bima, dan Gedung Konferensi.
Nama Tampak Siring berasal dari dua kata yaitu “tampak” yang berarti telapak dan “siring” yang berarti miring. Penamaan ini berhubungan erat dengan legenda masyarakat setempat mengenai raja Mayadenawa. Raja Mayadenawa adalah seorang raja yang sakti. Karena kesaktianya tersebut, dia menjadi sombong. Ia kemudian melarang rakyatnya melakukan upacara keagamaan dan menyembah tuhan. Sebagai gantinya rakyat harus menyembah dirinya. Maka Dewa Indra kemudian memimpin pasukanya untuk menyerang Mayadenawa.
Singkat cerita pasukan mayadenawa dapat dikalahkan. Mayadenawa kemudian melarikan diri ke tengah hutan. Untuk menyamarkan jejaknya, dia berjalan dengan cara memiringkan kakinya. Namun usahanya sia-sia. Jejaknya berhasil diketahui oleh pasukan Dewa Indra. Dengan sisa-sisa kekuatanya Mayadenawa menciptakan mata air beracun yang dapat membunuh para pengejarnya. Untuk menanggulangi akibat dari mata air beracun tersebut, maka Dewa Indra membuat mata air penawarnya yang dinamakan sebagai Tirta Empul. Sedangkan area pelarian Raja Mayadenawa kemudian dinamakan Tampak Siring.
Pada Wisma Merdeka, pengunjung dapat melihat Ruang Tidur I dan Ruang Tidur II Presiden, Ruang Tidur Keluarga, Ruang Tamu, Serta Ruang Kerja yang ditata dengan indah. Sedangkan Wisma Negara merupakan bangunan yang digunakan untuk menjamu tamu negara. Di antara Wisma Merdeka dan Wisma Negara terdapat celah dengan kedalaman kira-kira 15 meter. Maka diantara kedua wisma tersebut dibangun sebuah jembatan sepanjang 40 meter dengan lebar 1,5 meter. Jembatan tersebut dikenal daengan nama Jembatan Persahabatan. Wisma Yudhistira merupakan bangunan yang digunakan sebagai tempat menginap bagi rombongan kepresidenan ataupun para tamu negara. Sedangkan Wisma Bima digunakan sebagai tempat peristirahatan pengawal presiden ataupun pengawal tamu negara. Yang terakhir adalah Gedung Konferensi yang dibangun untuk keperluan rapat cabinet, jamuan makan malam tamu kenegaraan, serta konferensi-konferensi penting seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV yang diselenggarakan pada tanggal 7 – 8 Oktober 2003 silam.
Selain wisma-wisma tadi, pengunjung juga dapat menikmati objek wisata lainya di kompleks Istana ini yaitu Pura Tirta Empul yang tepat berada di bawah Istana Tampak Siring.( I Wayan Narayan)

1 comment:

Post a Comment